Monday, October 18, 2010

Kiyong dan Odong Dalam "Maling Kadongdong"

"Yong, maling kadongdong yu!"
"Di mana?"
"Di Gunung Batu."
"Di Gunung Batu mah moal aya kadongdong, aya oge batu."

BEGITULAH Asri Anggraeni (12) memainkan dua tokoh wayang buatannya, Kiyong dan Odong dalam sebuah lakon "Maling Kadongdong" di halaman Jabar Craft Center (JBCC), Jln. Ir. H. Juanda, Bandung, Minggu (17/10). Dalam penampilannya, Asri bercerita tentang dua orang yang berusaha mencuri kedondong tetapi akhirnya ketahuan pemiliknya.

Penampilan Asri yang polos mengundang tawa seluruh peserta Kid’s Craft Adventure yang sebagian besar anak-anak dan ibu-ibu. Menggunakan Bahasa Sunda, tanpa malu-malu Asri menyuguhkan ceritanya yang dibuatnya secara spontan. "Nggak ada persiapan apa-apa. Ketika dipanggil, langsung saja kepikiran cerita itu," kata Asri.

Dalam kegiatan yang berlangsung sekitar empat jam itu, para peserta dipandu instruktur dari Komunitas Hong untuk membuat wayang mainan dari batang daun singkong. Satu wayang menghabiskan 15-30 batang singkong dan bisa dibuat dalam 10-15 menit. Setelah selesai membuat wayang, para peserta diminta untuk bercerita tentang wayang buatannya itu.

**

KOORDINATOR Program JBCC, Deni Rachman mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak terhadap kerajinan dan kebudayaan lokal. Menurut dia, melalui kegiatan itu, anak-anak tidak hanya dituntut untuk percaya diri tetapi juga kreatif dan berimajinasi tinggi. "Mereka juga diperkenalkan kepada produk-produk kerajinan dari 26 kota/kabupaten di Jawa Barat yang terdapat di ruang galeri JBCC," katanya.

Deni menuturkan, untuk menyosialisasikan kerajinan Jawa Barat terutama kepada anak-anak, JBCC menggelar kegiatan ini setiap minggu. Bahkan, menurut dia, pada awal November nanti akan digelar Pameran Wayang Sedunia yang akan menghadirkan 43 wayang dari seluruh dunia.

Ke depan, Deni berharap agar Pemkot mencanangkan Dago Craft Area, sebagai ruang publik untuk memamerkan berbagai kerajinan Jawa Barat. Menurut dia, minimnya ruang publik menjadi kendala untuk menyosialisasikan kesenian dan kebudayaan Jawa Barat kepada masyarakat. "Mungkin kita juga bisa bekerja sama dengan industri-industri yang ada di sekitar Dago untuk mewujudkannya," katanya.

Pentingnya ruang publik ini diakui Ketua Komunitas Seni Celah-Celah Langit, Iman Soleh. Menurut dia, di Kota Bandung, banyak seniman dan budayawan tetapi sarana dan prasarana kesenian minim. "Jumlah ruang komersil jauh lebih banyak daripada ruang publik," katanya.

Iman menuturkan, untuk membangun ruang publik itu sebenarnya tidak perlu gedung besar ataupun areal yang luas. "Cukup sediakan lahan, di mana warga bisa bebas berekspresi," ujarnya. (Cecep Wijaya Sari/"PR")***

Sumber: Pikiran Rakyat, Senin, 18 Oktober 2010

No comments:

Post a Comment