Wednesday, December 8, 2010

KULIAH UMUM CULTURAL STUDIES



Sebagai sebuah kecenderungan baru dalam pemikiran—terutama di Barat—Cultural Studies belum dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin keilmuan yang telah mapan, melainkan sebuah ide yang tengah berkembang (ideas in progress), sebuah kecenderungan pemikiran yang masih dan terus mencari bentuknya. Pada awal perkembangannya, Cultural Studies sangat dipengaruhi oleh kecenderungan strukturalisme, baik dalam bahasa, semiotika, antropologi dan sosiologi. Perkembangan postmodernisme sebagai sebuah kecenderungan baru pemikiran mempengaruhi Cultural Studies pada tahap lanjutnya, yang menciptakan apa yang disebut sebagai Cultural Studies Postmodern.

Sebagai sebuah ide yang terus berkembang, Cultural Studies mempunyai sejarah yang panjang, dengan berbagai pengaruh eksternal terhadapnya. Setidak-tidaknya ada dua semangat zaman (zeitgeist) yang membangun Cultural Studies sebagai sebuah kecenderungan pemikiran: modernisme dan postmodernisme. Pada fase Cultural Studies Modern, telah diangkat berbagai isu sentral: isu tentang budaya populer, budaya massa, industrialisasi, kebudayaan dan industri, media massa, komodifikasi, struktur budaya, kode budaya, ideologi, subjek, hegemoni, struktur kelas, demokrasi dan kelas, resistensi, subversi dan perlawanan.

Pada fase Cultural Studies Postmodern, isu-isu yang diangkat bergeser ke arah berbagai isu yang menjadi subject matter gerakan postmodernisme sendiri: isu-isu tentang genesis, perubahan, produktivitas tanda, permainan bebas tanda, permainan bebas interpretasi, relativitas pengetahuan, mesin hasrat (desiring machine), ketaksadaran, ekonomi libido, heterogenitas, skizofrenia, nomadisme, simulasi, hiper-realitas, relasi pengetahuan dan kekuasaan (genealogi), teori wacana (discourse), pengetahuan lokal, etnisitas.

Pada fase modern, Cultural Studies dipengaruhi oleh berbagai kecenderungan pemikiran yang beragam: pada awalnya oleh kelompok pemikir kulturalis (Arnold, Richard, Leavis, Hoggart, William, Thompson), oleh para pemikir sosiologis (Weber, Berger & Luckman, Schutz), oleh para pendukung Marxis Barat (Althusser, Adorno, Benjamin, Gramsci), kemudian oleh para pemikir strukturalis (deSaussure, Barthes, Levi-Strauss,). Selanjutnya, pada fase postmodern, Cultural Studies dipengaruhi oleh para pemikir post-strukturalis (Derrida, Barthes, Kristeva) dan postmodernis (Foucault, Deleuze, Guattari, Lyotard dan Baudrillard).

Dapat dilihat di sini, bahwa Cultural Studies bukanlah sebuah kesatuan disiplin yang utuh dan mapan. Cultural Studies adalah kecenderungan cara berpikir, model analisis, atau model pemahaman, yang berkembang dengan mengkombinasikan berbagai teori dan metode-metode yang telah ada atau sedang berkembang, sehingga bersifat sangat dinamis, terus begerak dan terus menjadi (becoming). Sebagai sebuah pendekatan, Cultural Studies merekombinasikan secara eklektik dan bricolage berbagai pendekatan dan metode analisis yang telah ada, seperti teori budaya, kritik budaya, teori kritis, teori ideologi, teori subjek, antropologi, etnometodologi, semiotika, psikoanalisis, analisis teks, analisis wacana, dekonstruksi, skizoanalisis, dan genealogi.

WAKTU DAN TEMPAT

Hari: Setiap Kamis
Jam: 16.00 – 18.00 WIB
Tempat: Aula Gd. Jabar Craft Center, Jl. Ir. H. Juanda 19, Bandung
Tanggal: 27 Januari 2011 – 6 Mei 2011
Pengajar: DR. Yasraf Amir Piliang, MA
Biaya: Rp. 400.000,-

Fasilitas: Peserta mendapat buku yang berisi artikel dan bab-bab penting yang dipakai sebagai rujukan dalam kuliah ini.

PROFIL SINGKAT PENGAJAR

Dr. Yasraf Amir Piliang, MA (1956): Ketua KK Ilmu Desain dan Budaya Visual FSRD ITB, Penasihat Forum Studi Kebudayaan (FSK) ITB, dan Direktur Umum YAP Insitute. Mengenyam Pendidikan S1 di Desain Produk ITB (1984); kemudian melanjutkan S2 di Central Saint Martins, College of Art & Desain, London; dan mendapatkan gelar Doktor di ITB dengan disertasi berjudul "Layar dalam Multiplisitas Ruang-Waktu: Kajian Ontologi Objek dengan Pendekatan Filsafat Diferensiasi". Hingga saat ini telah menerbitkan 11 buku, di antaranya: Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan (1998), Sebuah Dunia yang Menakutkan (2001), Hipermoralitas: Mengadili Bayang-Bayang; Hantu-Hantu Politik dan Matinya Sosial (2003), Post-Realitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Post-metafisika (2004), dll.

PROGRAM KULIAH

Minggu 1
OBJEK & CITRA: Memahami Makna Objek

Objek dapat dilihat dari berbagai fenomena. Objek dapat dilihat sebagai fenomena utilitas dan fungsi, akan tetapi, juga sebagai fenomena bahasa. Sebagai fenomena bahasa, objek membentuk citra, yang menawarkan di baliknya makna tertentu. Makna sebuah objek dapat disingkapkan lewat struktur bahasanya, dan kode yang mengaturnya. Kuliah ini membicarakan objek sebagai sebuah fenomena bahasa.

Pustaka
1. Tony Thwaites, Tools for Cultural Studies, MacMillan, 1994.
2. John Fiske, Introduction to Communication Studies, Routledge, 1991.
3. Dick Hebdige, Hiding in the Light, Routledge, 1985.
4. Judith Williamson, Decoding Advertisements, Marion Boyars, 1977 (bab terpilih).
5. Andrew Tudor, Decoding Culture, Sage, 1999.

Minggu 2
OBJEK & CITRA: Strukturalisme vs Post-strukturalisme

Strukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia (objek) yang berkaitan dengan deskripsi struktur. Objek atau peristiwa dibentuk oleh relasi unsur-unsur bahasa, ketimbang relasi formalnya. Penekanannya adalah pada kode yang mengatur struktur tersebut. Post-strukturalisme, sebaliknya anti-struktur, dan lebih menekankan permukaan ketimbang isi, penampakan ketimbang transendensi.

Pustaka
1. Terence Hawkes, Structuralism and Semiotics, Methuen, 1977.
2. Roland Barthes, Mythologies, Paladin, 1983.
3. John Fiske, Introduction to Communication Study, Routledge, 1991.
4. Richard Harland, Superstructuralism, Polity Press, 1989.

Minggu 3
OBJEK & IDEOLOGI: Peranan Ideologi dalam Budaya Benda

Ideologi tidak semata perangkat politik. Ideologi adalah sebuah sistem bahasa dan tanda. Ideologi tidak saja diaktualisasikan lewat tindakan, aktivitas dan hubungan sosial, akan tetapi juga lewat dunia objek. Sebuah objek menyatakan ideologi tertentu di baliknya. Akan tetapi, konsep ideologi itu sendiri terus mengalami perubahan.

Pustaka
1. Louis Althusser, ‘Ideology and Ideological State Apparatusses’, dalam Essays on Ideology, Verso, 1984.
2. John A. Walker, ‘Production-consumption Model’, dalam Design History and the History of Design, Pluto Press, 1989.
3. John Fiske, Introduction to Communication Studies, Routledge, 1991.

Minggu 4
OBJEK & IDEOLOGI: Daya Pesona Objek (Fetisisme Komoditi)

Objek desain tidak saja mempunyai nilai fungsional, akan tetapi juga nilai-nilai abstrak lainnya, seperti nilai pesona atau fetish (status, prestise, simbol). Nilai pesona ini, di dalam sistem perekonomian modern lebih ditentukan oleh status objek sebagai komoditi, yaitu objek yang mempunyai nilai tukar, yang di dalamnya objek dinilai dari tanda dan makna sosialnya.

Pustaka
1. Karl Marx, Capital Volume 1, Penguin, 1977, hlm. 163-177.
2. Sigmund Freud, Bab tentang ‘Fetishism’, dalam On Sexuality, Pelican, 1987.
3. Jhally, Klein & Leiss, ‘Magic in the Market Place’: An Empirical Test for Commodity Fetishism’, dalam Canadian
Journal of Political and Social Theory, Vol. IX, No. 3, 1985.
4. Sut Jhally, The Code of Advertisements, Routledge, 1990.

Minggu 5
OBJEK & DISCOURSE: Apa Itu Discourse?

Discourse merupakan sebuah istilah kunci di dalam perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer, yang digunakan hampir di setiap disiplin keilmuan. Akan tetapi, apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan discourse? Dapatkah discourse diartikan sebagai perbincangan, diskursus atau wacana? Kuliah ini mencoba mediskusikan aspek-aspek teoritis dari discourse, dengan berbagai pandangan teoritis mengenainya.

Pustaka
1. Tony Thwaites, Tools for Cultural Studies, MacMillan, 1994.
2. Victor Margolin, Design Discourse, The University of Chicago Press, 1989.
3. Michel Foucault, The Order of Things, Routledge, 1989.
4. Michel Foucault, Discipline and Punish, Peregrine, 1986
5. Yasraf A. Piliang, Hipersemiotika, Jalasutra, 2003.

Minggu 6
OBJEK & DISCOURSE: Gender Discourse

Setiap objek mengandung makna sosial dan kultural tertentu, yang salah satunya berkaitan dengan relasi gender. Relasi gender pada sebuah objek membentuk apa yang disebut sebagai gender discourse, yaitu relasi antara bahasa, ungkapan dan kekuasan yang membentuk hubungan kultural antara laki-laki dan wanita. Bagaimana relasi gender ini mengalami perubahan?

Pustaka
1. Sigmund Freud, On Sexuality, Pelican, 1987.
2. Toris Moi, Sexual Textual Practice, Methuen, 1985.
3. John A. Walker, ‘FORM/Female FOLLOWS FUNCTION/Male’, dalam Design History and the History of Design, Pluto Press, 1989.
4. Adrian Forty, Object of Desire, Thames and Hudson, 1986.

Minggu 7
OBJEK & GAYA HIDUP: Peran Produk dalam Masyarakat

Ada hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara struktur bahasa dan klasifikasi sebuah produk dengan struktur dan klasifikasi sosial. Ada berbagai model struktur dan klasifikasi sosial, seperti berdasarkan kelas, status, profesi, termasuk di antaranya klasifikasi berdasarkan gaya hidup. Gaya hidup itu sendiri mengalami perubahan terus-menerus.

Pustaka
1. Daniel Miller, Material Culture and Mass Consumption, Basil Blackwell, 1987.
2. Grant McCracken, Culture and Consumption, Indiana University Press, 1990.
3. Alan Tomlinson, Consumption, Identity, Style, Routledge, 1991.
4. Jean Baudrillard, ‘The System of Object’, dalam Mark Poster, Jean Baudrillard Selected Writings, Polity Press, 1988.

Minggu 8
OBJEK & GAYA HIDUP: Iklan dan Gaya Hidup Konsumerisme

Perkembangan gaya hidup konsumerisme tidak dapat dilepaskan dari peran iklan di dalamnya. Relasi antara iklan dan pemirsa/pemerhati tidak semata sebagai relasi stimulus-respons, akan tetapi merupakan bagian dari struktur dan relasi sosial yang kompleks, yang melibatkan di dalamnya bahasa, ideologi dan hegemoni budaya. Iklan merupakan sebuah mekanisme pendefinisi gaya hidup dan irama konsumsi.

Pustaka
1. Judith Williamsons, Decoding Advertisements, Marion Boyars, 1977.
2. Katty Myers, Understains, Comedia, 1986.
3. Rosalind Coward, Female Desire, Paladin, 1984.
4. Mica Nava, ‘Consumerism and Its Contradiction, dalam Changing Cultures, Sage Publication, 1992.

Minggu 9
OBJEK & BUDAYA POSTMODERN: Tinjauan Filosofis

Peralihan dari kondisi modernitas ke arah apa yang disebut kondisi posmodernitas telah menciptakan perubahan radikal pada berbagai aspek kehidupan. Berbagai struktur (sosial, budaya, bahasa, sastra, seni) kini mengalami proses pembongkaran atau pencairan yang disebut dekonstruksi, yang meninggalkan sebuah kondisi kegalauan tanda dan makna.

Pustaka
1. Hal Foster (ed), Postmodern Culture, Pluto Press, 1988
2. Madan Sarup, An Introductory Guide to Post-Structuralism and Postmodernism, Harvester, 1988.
3. Fredric Jameson, Postmodernism or, the Cultural Logic of Late Capitalism, Verso, 1991.
4. J.F. Lyotard, ‘Answering the Question: What is Postmodernism?”, dalam Postmodern Condition, Manchester, University Press, 1989.
5. Yasraf A. Piliang, Dunia Yang Dilipat, Jalasutra, 2004.

Minggu 10
OBJEK & BUDAYA POSMODERN: Wacana Estetik

Peralihan dari modernisme menuju postmodernisme mempunyai implikasi yang luas terhadap wacana seni, khususnya artikulasi pada bahasa estetik. Bahasa estetik postmodernisme menolak setiap bentuk Narasi Besar dalam estetik (universalisme, sentralisme), dan menawarkan wacana estetik yang menghargai heterogenitas, pluralisme dan eklektisisme, dengan berbagai idiom-idiom yang plural di dalamnya.

Pustaka
1. Linda Apignanesi, Postmodernism, ICA Document, 1985.
2. Susan Sontag, ‘Notes on Camp’, dalam Against Interpretation, Anchor Books, 1992.
3. Fredric Jameson, ‘Postmodernisme and Consumer Society’, dalam Hal Foster, Postmodern Culture, Pluto, Press, 1985.
4. Yasraf A. Piliang, Hipersemiotika, Jalasutra, 2003.

Minggu 11
OBJEK & REALITAS: Hiper-realitas Kebudayaan

Tanpa disadari masyarakat kontemporer telah memasuki dunia baru yang disebut dunia post-realitas, yang di dalamnya realitas direkayasa sedemikian rupa lewat berbagai teknologi simulasi elektronik. Realitas digantikan oleh model-model realitas yang tanpa referensi dan rujukan pada realitas. Fantasi menjadi realitas kedua; realitas media menggantikan dunia realitas yang direpresentasikannya, sehingga perbedaan keduanya menjadi kabur.

Pustaka
1. Jean Baudrillard, ‘Simulacra and Simulation’, dalam Mark Poster, Jean Baudrillard Selected Writings, Polity, Press, 1988.
2. Jean Baudrillard, Simulations, Semiotext(e), 1981.
3. Umberto Eco, Travels in Hyper-reality, Picador, 1973.
4. Yasraf Amir Piliang, Post-Realitas, Jalasutra, 2004.

Minggu 12
OBJEK & REALITAS: Budaya Virtual

Perkembangan mutakhir teknologi informasi telah mampu menciptakan ruang baru, yang dibentuk oleh elemen-elemen halusinasi, yaitu berupa representasi grafis di dalam jaringan komputer global. Jaringan ini membentuk realitas baru yang disebut realitas virtual, yang di dalamnya berlangsung model kehidupan yang bersifat virtual.

Pustaka
1. Howard Rheingold, Virtual Reality, Summit, 1991.
2. Howard Rheingold, Virtual Community, Secker & Warburg, 1994.
3. Timothy Druckery, Electronic Culture, Aperture, 1996.
4. Yasraf Amir Piliang, Transpolitika, Jalasutra, 2008.

Kuliah umum Cultural Studies ini terselenggara atas kerja sama Forum Studi Kebudayaan (FSK) ITB dan Perpustakaan Dekranasda Jawa Barat.

Info Pendaftaran:
Yasmin Kartikasari 081931454591
fsk.itb@gmail.com

No comments:

Post a Comment